March 20, 2008
sambutan maulidur rasul
Ikhwanku itu, menurut Rasulullah s.a.w, "Mereka adalah yang belum pernah melihatku, tetapi mereka beriman dan mencintaiku. Aku sangat rindu untuk bertemu mereka."
January 17, 2008
DIALOG HUZHAIFAH BIN AL-YAMAN DENGAN KEMATIAN

Seperti yang dijelaskan Huzhaifah bin Al-Yaman r.a, ia cinta akan kematian, sebab dia sudah tahu amalan-amalan soleh yang dikerjakan untuk akhirat dan kerana yakin seluruh kenikmatan dunia itu tidak sebanding dengan satupun kenikmatan akhirat. Kerana itu dia berkata " kehidupan yang enak akan datang setelahmu". Dia juga cinta akan kematian, sebab dia dijemput kematian sebelum datangnya hari-hari fitnah, di mana tidak seorang pun yang akan terlepas atau terselamat daripadanya....(dipetik daripada buku TAUJIH RUHIYAH PESAN-PESAN SPIRITUAL PENJERNIH HATI ..tulisan: Abdul Hamid Al-Bilali penerbit An-Nadwah)
Maka adakah kita tergolong dalam kalangan insan-insan yang mengabdikan diri kepada Allah dan menjadikan matlamat hidup yang teragung adalah menjadi hamba kepada ALLAH Sang Penguasa Alam...Ayuhlah sahabat seagamaku, sentiasalah kita mempersiapkan diri untuk menempuhi destinasi abadi di Akhirat kelak. Mati itu pasti....Cukupkah bekalan untuk membela kita nanti??? mampukah ia membantu kita untuk dihisab di mizan nanti????
Tanyailah orang-orang yang soleh mengapa mereka tidak berhibur dengan kenikmatan-kenikmatan duniawi, pasti mereka akan menjawab:
Lantaran itu, jgn kita terleka dalam mentarbiyah qalbi kita agar sentiasa ingat akan janji-janji ALLAH SWT kepada hamba-hambanya...Habib Abdullah Al-Hadad mengingatkan kita dengan ujarannya yang berbunyi:
" Tumpukanlah perhatianmu pada urusan hatimu dan batinmu buktikan perkataanmu dengan amalanmu dan amalanmu dengan niat serta eikhlasmu dengan menjernihkan dalamanmu dengan memperbetulkan hatimu, kerana hati itu adalah asal dan di situlah permulaan bagi segala-galanya. Sesungguhnya Allah hanya menilai hati dan niat kamu"...000
January 10, 2008
TIPS: 10 Peribadi Muslim

- Salimul Aqidah (Aqidah yg sejahtera)
- Shahihul ‘Ibadah (‘Ibadah yg sahih)
- Matinul Khuluq (Akhlak yg mantap)
- Qowiyyul Jismi (Jasmani yg kuat)
- Mutsaqqoful Fikri (Luas ilmu pengetahuan)
- Mujahadatun Linafsihi (Mampu melawan nafsu)
- Harishun 'ala Waqtihi (Sangat menepati masa)
- Munazhzhamun fi Syu'unihi (Tersusun kehidupannya)
- Qodirun 'alal Kasbi (Mampu berdikari)
- Naafi'un Lighoirihi (Bermanfaat utk org lain)
Al-Qur'an dan Sunnah merupakan dua pusaka Rasulullah Saw yang harus selalu dirujuk oleh setiap muslim dalam segala aspek kehidupan. Satu dari sekian aspek kehidupan yang amat penting adalah pembentukan dan pengembangan peribadi muslim. Peribadi muslim yang dikehendaki oleh Al-Qur'an dan sunnah adalah peribadi yang shaleh, peribadi yang sikap, ucapan dan tindakannya terwarnai oleh nilai-nilai yang datang dari Allah Swt. Persepsi masyarakat tentang peribadi muslim memang berbeda-beda, bahkan banyak yang pemahamannya sempit sehingga seolah-olah peribadi muslim itu tercermin pada orang yang hanya rajin menjalankan Islam dari aspek ubudiyah, padahal itu hanyalah salah satu aspek yang harus lekat pada peribadi seorang muslim. Oleh kerana itu standar peribadi muslim yang erdasarkan Al-Qur'an dan sunnah merupakan sesuatu yang harus dirumuskan, sehingga menjadi acuan bagi pembentukan peribadi muslim. Bila disederhanakan, sekurang-kurangnya ada sepuluh profil atau ciri khas yang harus lekat pada peribadi muslim.
1. Salimul AqidahAqidah yang bersih (salimul aqidah) merupakan sesuatu yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah Swt dan dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya. Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah sebagaimana firman-Nya yang artinya: 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semua bagi Allah Tuhan semesta alam' (QS 6:162). Kerana memiliki aqidah yang salim merupakan sesuatu yang amat penting, maka dalam da'wahnya kepada para sahabat di Makkah, Rasulullah Saw mengutamakan pembinaan aqidah, iman atau tauhid.
2. Shahihul Ibadah.
Ibadah yang benar (shahihul ibadah) merupakan salah satu perintah Rasul Saw yang penting, dalam satu haditsnya; beliau menyatakan: 'shalatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku shalat.' Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul Saw yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.
3. Matinul Khuluq.
Akhlak yang kokoh (matinul khuluq) atau akhlak yang mulia merupakan sikap dan prilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat. Kerana begitu penting memiliki akhlak yang mulia bagi umat manusia, maka Rasulullah Saw ditutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah di dalam Al- Qur'an, Allah berfirman yang artinya: 'Dan sesungguhnya kamu benar- benar memiliki akhlak yang agung' (QS 68:4).
Kekuatan jasmani (qowiyyul jismi) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang harus ada. Kekuatan jasmani berarti seorang muslim memiliki daya tahan tubuh sehingga dapat melaksanakan ajaran Islam secara optimal dengan fisiknya yang kuat. Shalat, puasa, zakat dan haji merupakan amalan di dalam Islam yang harus dilaksanakan dengan fisik yang sehat atau kuat, apalagi perang di jalan Allah dan bentuk-bentuk perjuangan lainnya. Oleh kerana itu, kesehatan jasmani harus mendapat perhatian seorang muslim dan pencegahan dari penyakit jauh lebih utama daripada pengobatan. Meskipun demikian, sakit tetap kita anggap sebagai sesuatu yang wajar bila hal itu kadang-kadang terjadi, dan jangan sampai seorang muslim sakit-sakitan. Kerana kekuatan jasmani juga termasuk yang penting, maka Rasulullah Saw bersabda yang artinya: 'Mu'min yang kuat lebih aku cintai daripada mu'min yang lemah' (HR. Muslim).
5. Mutsaqqoful Fikri
Intelek dalam berpikir (mutsaqqoful fikri) merupakan salah satu sisi peribadi muslim yang penting. Kerana itu salah satu sifat Rasul adalah fatonah (cerdas) dan Al-Qur'an banyak mengungkap ayat-ayat yang merangsang manusia untuk berpikir, misalnya firman Allah yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang, khamar dan judi. Katakanlah: 'pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.' Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: 'Yang lebih dari keperluan.' Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berpikir (QS 2:219). Di dalam Islam, tidak ada satupun perbuatan yang harus kita lakukan, kecuali harus dimulai dengan aktivitas berpikir. Kerananya seorang muslim harus memiliki wawasan keislaman dan keilmuan yang luas. Bisa kita bayangkan, betapa bahayanya suatu perbuatan tanpa mendapatkan pertimbangan pemikiran secara matang terlebih dahulu. Oleh kerana itu Allah mempertanyakan kepada kita tentang tingkatan intelektualitas seseorang sebagaimana firman-Nya yang artinya: Katakanlah:samakah orang yang mengetahui dengan orang yang tidak mengetahui, sesungguhnya orang-orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).6. Mujahadatun Linafsihi.
Berjuang melawan hawa nafsu (mujahadatun linafsihi) merupakan salah satu keperibadian yang harus ada pada diri seorang muslim, kerana setiap manusia memiliki kecenderungan pada yang baik dan yang buruk. Melaksanakan kecenderungan pada yang baik dan menghindari yang buruk amat menuntut adanya kesungguhan dan kesungguhan itu akan ada manakala seseorang berjuang dalam melawan hawa nafsu. Oleh kerana itu hawa nafsu yang ada pada setiap diri manusia harus diupayakan tunduk pada ajaran Islam, Rasulullah Saw bersabda yang artinya: Tidak beriman seseorang dari kamu sehingga ia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa yang aku bawa (ajaran islam) (HR. Hakim).
7. Harishun 'ala Waqtihi.
Pandai menjaga waktu (harishun ala waqtihi) merupakan faktor penting bagi manusia. Hal ini kerana waktu itu sendiri mendapat perhatian yang begitu besar dari Allah dan Rasul-Nya. Allah Swt banyak bersumpah di dalam Al-Qur'an dengan menyebut nama waktu seperti wal fajri, wad dhuha, wal asri, wallaili dan sebagainya. Allah Swt memberikan waktu kepada manusia dalam jumlah yang sama setiap, Yakni 24 jam sehari semalam. Dari waktu yang 24 jam itu, ada manusia yang beruntung dan tak sedikit manusia yang rugi. Kerana itu tepat sebuah semboyan yang menyatakan: 'Lebih baik kehilangan jam daripada kehilangan waktu.' Waktu merupakan sesuatu yang cepat berlalu dan tidak akan pernah kembali lagi. Oleh kerana itu setiap muslim amat dituntut untuk memanaj waktunya dengan baik, sehingga waktu dapat berlalu dengan penggunaan yang efektif, tak ada yang sia-sia. Maka diantara yang disinggung oleh Nabi Saw adalah memanfaatkan momentum lima perkara sebelum datang lima perkara, yakni waktu hidup sebelum mati, sehat sebelum sakit, muda sebelum tua, senggang sebelum sibuk dan kaya sebelum miskin.
8. Munazhzhamun fi Syu'unihi.
9. Qodirun 'alal Kasbi.
Memiliki kemampuan usaha sendiri atau yang juga disebut dengan mandiri (qodirun alal kasbi) merupakan ciri lain yang harus ada pada seorang muslim. Ini merupakan sesuatu yang amat diperlukan. Mempertahankan kebenaran dan berjuang menegakkannya baru bisa dilaksanakan manakala seseorang memiliki kemandirian, terutama dari segi ekonomi. Tak sedikit seseorang mengorbankan prinsip yang telah dianutnya kerana tidak memiliki kemandirian dari segi ekonomi. Kerana itu peribadi muslim tidaklah mesti miskin, seorang muslim boleh saja kaya raya bahkan memang harus kaya agar dia bisa menunaikan haji dan umroh, zakat, infaq, shadaqah, dan mempersiapkan masa depan yang baik. Oleh kerana itu perintah mencari nafkah amat banyak di dalam Al-Qur'an maupun hadits dan hal itu memiliki keutamaan yang sangat tinggi. Dalam kaitan menciptakan kemandirian inilah seorang muslim amat dituntut memiliki keahlian apa saja yang baik, agar dengan keahliannya itu menjadi sebab baginya mendapat rizki dari Allah Swt, kerana rizki yang telah Allah sediakan harus diambil dan mengambilnya memerlukan skill atau ketrampilan.10. Naafi'un Lighoirihi.
Bermanfaat bagi orang lain (nafi'un lighoirihi) merupakan sebuah tuntutan kepada setiap muslim. Manfaat yang dimaksud tentu saja manfaat yang baik sehingga dimanapun dia berada, orang disekitarnya merasakan keberadaannya kerana bermanfaat besar. Maka jangan sampai seorang muslim adanya tidak menggenapkan dan tidak adanya tidak mengganjilkan. Ini berarti setiap muslim itu harus selalu berpikir, mempersiapkan dirinya dan berupaya semaksimal untuk bisa bermanfaat dalam hal-hal tertentu sehingga jangan sampai seorang muslim itu tidak bisa mengambil peran yang baik dalam masyarakatnya. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw bersabda yang artinya: sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain (HR. Qudhy dari Jabir). Demikian secara umum profil seorang muslim yang disebutkan dalam Al-Qur'an dan hadits, sesuatu yang perlu kita standarisasikan pada diri kita masing-masing.
Oleh:Drs. H. Ahmad Yani
Posting Surya Irawan Sukma 15 Sept 2000
artikel ini sumbangan ikhlas daripada saudari nurul amira mat safar, mantan presiden badai 2006.syukran.
January 2, 2008
KISAH TELADAN : mengapa perlu bersedekah??

Diceritakan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad,
seperti berikut :
Tatkala Allah Ta'ala menciptakan bumi, maka bumipun bergetar. Lalu Allah
menciptakan gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata
bumipun terdiam.
Para malaikat kehairanan akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka
bertanya "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat
daripada gunung ?"
Allah menjawab, " Ada , iaitu besi" (kita mafhum bahawa gunung batupun
boleh menjadi rata ketika dikorek/bore dan diratakan oleh buldozer atau
sejenisnya yang dibuat dari besi),
Para malaikat bertanya lagi "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu
yang lebih kuat daripada besi ?"
Allah yang Maha Suci menjawab, " Ada , iaitu api" (besi walau sekeras
manapun boleh menjadi cair dan hancur setelah dibakar api),
Para malaikat kembali bertanya "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada api ?"
Allah yang Maha Agung menjawab, " Ada , iaitu air" (api membara sedahsyat
apapun niscaya akan padam jika disiram air),
Para malaikatpun bertanya kembali "Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih kuat daripada air ?"
Allah yang Maha Tinggi dan Maha Sempurna menjawab, " Ada , iaitu angin"
(air disamudera yang luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung dan
menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tiada lain kerana kekuatan
angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat),
Akhirnya para malaikatpun bertanya lagi "Ya Allah, adakah sesuatu dalam
penciptaan-Mu yang lebih dahsyat dari itu semua ?"
Allah yang Maha Gagah dan Maha Dahsyat kehebatannya menjawab, " Ada , iaitu
amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya".
Ertinya, yang paling hebat, paling kuat dan paling dahsyat sebenarnya
adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga
sedekah yang dilakukannya bersih, tulus dan ikhlas tanpa ada unsur menunjuk-nunjuk ataupun supaya diketahui orang lain.
Berkaitan dengan ikhlas ini, RasulAllah SAW mengingatkan dalam pidatonya
ketika beliau sampai di Madinah pada waktu hijrah dari Makkah : "Wahai
segenap manusia ! Sesungguhnya amal itu tergantung kepada niat, dan seseorang akan mendapatkan (pahala) sesuai dengan apa yang diniatkannya".